Translate

BUKIT SEBOMBAN, Bonti Sanggau. Antara Keindahan dan Cerita Melegenda

Lihatlah jauh ke dalam alam, dan kamu akan mengerti segalanya dengan lebih baik.



Bukit Sebomban terletak di Desa  Upe, Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Dari kota Sanggau menuju Bukit Sebomban Jarak tempuh menggunakan roda dua dan roda empat sekitar 37 Km atau sekitar 1 Jam perjalanan.Bagi para pendaki yang akan meuju kesana, alangkah baiknya menghubungi ketua RT Desa Upe atau ketua adat setempat. disana nanti akan diberi penjelasan dan pantangan/larangan - larangan yang tidak boleh dilakukan di Bukit Sebomban.

Perjalanan menuju kesana dari   desa upe berjalan kaki menelusuri hutan belantara yang sagat indah untuk di nikmati. Sesekali anda akan perpapasan dengan warga sekitar yang pulang dari berladang. menambah semangat perjalanan kesana. Sesampainya disna anda akan disuguhkan dengan pemandangan dari atas bukit. terlihat bukit bukit yang menjulangdisekitar bukit sebomban. Pada pagi hari, anda akan disuguhkan dengan awan yang menyelimuti bukit seperti Negara diatas awan, yang menyenangkan lagi ada air terjunnya loh disana. mau mandi sepuasnya juga bisa.

Mengenal Masyarakat di sekitar Bukit Sebomban

Suku Dayak Mayau   merupakan sub- Suku Dayak yang menghuni 7 kampung yang tersebar di Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Suku ini termasuk rumpun suku dayak bidayuh yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Sanggau, suku Dayak Mayau terdiri dari tujuh buah kampung. Dayak dan Mayau sendiri asal kata  dari sebuah sungai di daerah tersebut yaitu, sungai Mayau. Pemukiman Penduduk suku dayak Mayau atau   "Bidoih Mayau" yang artinya orang darat atau suku dayak darat dari Mayau

Baca Juga : Keindahan Bukit Bahu, Sanggau

Cerita Melegenda sampai saat ini.

Warga suku Dayak Mayau atau Mayao mempunyai cerita yang melegenda yang masih dipercaya oleh mereka sampai saat ini.

Konon hidup seorang nenek dengan cucunya mereka berada didalam rimba jauh dari perkampungan dalam suatu gubuk reot. Mereka hidup dan diasingkan oleh orang-orang disekitar Desa itu karena mereka tidak senang dengan kehadiran mereka berdua. Si nenek dan sang cucu hidup sederhana. Mereka berdua hidup dengan cara memakan tumbuh-tumbuhan rimba dengan peratan dan perkakas apa adanya.

Suatu ketika masyarakat di daerah itu melangsungkan acara pesta Gawai Panen Padi selama 7 hari 7 malam karena panen yang mereka hasilkan  berlimpah ruah. Mereka mengundang daerah tetangga dari 4 pelosok untuk mengikuti Acara pesta Gawai yang diselenggarakan oleh orang kampung tersebut. Tetapi ada masalah terjadi ketika mereka tidak mengundang si nenek dan si cucu (karena tradisi istiadat pada jaman itu jika melangsungkan gawai seluruh orang harus diundang ke acara pesta itu jika tidak mendapatkan petaka).

Baca Juga : Bukit Belew, Negeri diatas Awan

Mendengar kabar dari pembicaraan masyarakat ada Gawai daerah itu, maka pergilah si cucu itu ke acara pesta gawai . Sang cucu yang tidak tau menau masalah yang menimpanya bersama neneknya karena masih kecil   pergi mendatangi acara pesta itu tapi sesampainya di situ bukan sambutan baik yang diterima  tapi sang cucu mendapatkan tindakan yang kasar dari orang -orang disana, ditendang dan dicemooh. Dengan rasa sedih ia pulang menjumpai neneknya dan bercerita tindakan yang diterimanya ke neneknya. Mendengar cerita cucunya, Si nenek pun sedih hatinya . Karena kasihan ke cucunya lalu si nenek memerintahkan si cucu balik lagi ke daerah itu, siapa tau masih ad orang disana yang perhatian dengan cucunya tersebut.

Si cucu akhirnya  mengikuti kemauan neneknya untuk balik ke daerah tersebut tetapi apa yang terjadi tindakan orang daerah seperti yang sudah-sudah, justru lebih kasar dan diperlakukan  seperti binatang dengan memberikan sang cucu itu dengan daging yang dibuat dari karet (latek)yang rasanya keras dan cemplang. Sang cucu bawa daging itu pulang ke neneknya, sesampainya di gubuk sang cucu memberikan daging pemberian orang daerah itu ke neneknya dan nenek itu mengonsumsi daging pemberian sang cucu, tetapi daging itu benar-benar alot dan keras. Ssetelah tahu jika daging pemberian orang daerah itu palsu maka murkalah si nenek dan berbicara "Nahaslah mereka karena sudah perlakukan kita seperti binatang", marahnya.

Lalu si nenek memerintah sang cucu untuk pergi kembali ke daerah tersebut dengan membawa satu ekor anak kucing yang didandani seperti seperti manusia dengan sarung parang di pinggangnya dan memerintahkan si cucu melepas anak kucing itu di tengah-tengah orang ramai. Sang cucu juga mengikut perintah si nenek dan melakukan apa yang diperintah si nenek.  Sang cucu pun melepas anak kucing itu ke tengah orang ramai dan saat orang ramai itu menyaksikan anak kucing itu langsung orang ramai itu meneriaki, mengejek, menertawai, dan mencela anak kucing itu.

Selang beberapa saat mendadak langit berubah menjadi mendung dan gelap petir menyambar dimana mana,  hujan batu  turun bertubi-tubi sehingga perkampungan itu terendam batu dan berubah menjadi sebuah bukit yang dinamakan bukit Sebomban.

Sampai saat ini oarang Dayak Mayau masih mengingat kejadian ini dan masih yakin jika Pamali (pantang) menertawai binatang khususnya kucing.

10 tempat wisata di kabupaten sanggau, bukit di sanggau terindah, negeri awan, ada apa di sanggau, 

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
Belum Ada Komentar :
Tambahkan Komentar
Comment url
Post Terkait :
BERITA DAN INFORMASI,WISATA ALAM